Kisah Pegiat Literasi dari Pelosok Pulau di Morowali

Oleh : Mahadin Hamran

Namanya, Asmin M. Garusu. Dari Desa Ulunipa, Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali. Hadir dan bertemu di Kegiatan Bimtek Komunitas Literasi di Hotel Santika Palu, hari ini, Selasa (19/10). Sampai hari Jumat (22/10). Sekitar 4 hari kedepan.

Kegiatan ini di selenggarakan oleh Balai Bahasa Sulawesi Tengah, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Dihadiri kurang lebih 50 peserta dari berbagai komunitas literasi dan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) se-Sulawesi Tengah. Tujuannya adalah pemberdayaan komunitas. Dimulai dari penguatan manajemen dan praktek. Penyusunan program kreatif.

Melatih kecerdasan. Kebijaksanaan berliterasi digital. Lalu di perkuat dengan Literasi dasar dan kecakapan hidup. Kemudian belajar menulis, sharing komunitas, kerjasama, kolaborasi, dan dukungan semua pihak. Memaksimalkan peran. Berjejaring di komunitas literasi. Pada saat ini, Saya bertemu salah satu sosok muda dari pelosok. Asmin, nama akrabnya. Seorang pegiat literasi dari wilayah terjauh. Daerah pinggiran. Pulau terluar dari Kabupaten Morowali. Daerah kepulauan Sulawesi Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari. Ia menempuh perjalanan dari kampungnya sekitar 12 jam. Naik kapal. Lalu menepi di pelabuhan Bungku Tengah. Kemudian memesan tiket mobil rental menuju Kota Palu. Sekira 14 Jam perjalanan. Berarti Kurang lebih 26 jam dia lalui. Sampai menghadiri kegiatan ini. Liku-likunya memang tidak gampang.

Perjalanannya jauh dan melelahkan. Melewati beberapa pulau. Dari desanya, menembus batas-batas geografis. Melewati tepian samudra untuk menggapai mimpinya.Saya tertarik dengan sosoknya yang semangat. Masih muda. Lulusan Sarjana kesehatan masyarakat. Alumni Institut Teknologi dan Kesehatan (ITK) AVICENNA Kendari. Ia lebih memilih jalan sunyi literasi, daripada godaan hidup ditengah bayang-bayang kemewahan. Glamour, hidup disekitar tanah penuh nikel Morowali.Bagi sarjana seusia dia. hidup di daratan tambang nikel seharusnya menjadi pilihan. Ia sering diajak kerabatnya kerja di Tambang.

Bisa Kerja bertahun-tahun. Menumpuk modal. Lalu menjadi milyarder. Minimal jadi pengusaha muda. Sebagaimana harapan dominan banyak orang. Pemuda kelahiran 28 Januari 1989 ini, begitu tegar menghadapi dunia high class. Berkibar memasang badan, membuka jendela dunia bagi anak-anak di desanya. Mengajarkan Iqra. Mengeja huruf. Merangkainya menjadi semangat untuk generasinya.Sejak mahasiswa. Ia sudah mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM). Namanya “Sayap Garuda”, yang didirikan sejak 8 tahun silam, tahun 2013. Nama Sayap Garuda terinspirasi dari lagu Iwan Fals. Judulnya, Bangunlah putra Putri Pertiwi. “Terbanglah Garudaku. Singkirkan kutu-kutu disayapmu.

Berkibarlah Benderaku. Singkirkan benalu di tiangmu. Jangan Ragu dan Jangan malu. Tunjukkan pada dunia. Bahwa sebenarnya kita mampu.”Pada titik ini, Ia berkomitmen memulainya dari wilayah pinggiran. Desa pelosok. Diharapkan tercipta putra-putri terbaik bangsa melalui literasi.Lalu saya langsung teringat kata-kata bung Hatta. Bahwa Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di Desa.Ia adalah salah satu pegiat yang memantulkan cahaya itu. Menyalakan lilin-lilin dari desa.

Menyemangati anak-anak untuk tetap menjaga fitrahnya, berliterasi. Kisahnya pernah menjadi pengurus FTBM Sulawesi Tenggara. Mensukseskan hari aksara nasional pada tahun 2014. Pernah tour literasi se Jawa Barat. Mengikuti magang Literasi Tahun 2013 di Komunitas Rumah dunia, yang di kelola Heri Hendrayana Harris atau dikenal dengan nama pena Gol A Gong. Sastrawan Bangsa yang juga sebagai Duta baca nasional saat ini. Perjalanan Asmin M. Garusu bisa diambil sebagai perenungan. Ia hadir memberitahu kita bahwa semua proses literasi harus terkoneksi satu sama lain. Jangan jalan sendiri-sendiri.

Sebagaimana mengeja kata, menjadi kalimat, membentuk paragraf. Lalu menjadi kekuatan besar yang merubah peradaban dunia. Kata, kalimat dan paragraf itu terkoneksi. Bersatu padu menumbuh kembangkan bahasa. Kekuatan kolaborasi dan berjejaring sangat dibutuhkan. Disitu, kita berbagi visi, misi, sumber daya dan tujuan bersama. Ada inovasi yang terus tumbuh. Kreativitas selalu menjadi prioritas. Sebagaimana Ia berharap, bahwa desanya harus terus bertumbuh. dari taman Baca miliknya, minimal menginspirasi banyak pihak untuk mendirikan gedung perpustakaan. Gudang ilmu dan pusat informasi.

Kampanye literasi yang sudah Ia bangun, cukup menjadi dasar peran kepada para pihak, untuk bisa masuk ke desanya. Bersama membangun kesadaran literasi yang masih rendah. Menghapus usia putus sekolah, pernikahan dini, serta mendorong tingkat kesejahteraan masyarakat di desanya. Lalu melahirkan kebijakan negara dari pusat, daerah hingga desa. Apalagi ada potensi pariwisata dan pusat perikanan yang belum terkelola dengan baik. Payau atau danau dengan pemandangan pasir pantai putih, belum menjadi pusat permandian dan anjungan pantai. Para nelayan masih mengharap tengkulak. Hasil ikan lebih banyak di jual keluar daerah.

Tidak terfokus pada putaran ekonomi di desanya. Percakapan kami diakhiri pada bagaimana upaya, bahwa literasi tidak hanya soal pelayanan baca tulis dan kemampuan berhitung. tetapi juga ada literasi finansial, kemapuan saintis, kecakapan digital, serta perubahan budaya kewargaan yang bisa menopang masyarakat untuk lebih maju dan mandiri. Memiliki skill dan keterampilan berupa pengalaman hidup yang bijaksana.Sebagaimana kata dia. Sarjana bijak adalah sarjana terus tampil sebagai problem solving ditengah-tengah masyarakatnya. Menjadi Agen of change, yang terus-menerus dilakukan untuk kebaikan desa, bangsa dan negaranya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *