Filsafat Tidak Akan Pernah Mati

Saeful Ihsan

Oleh : Saeful Ihsan

POLEMIK sains kini memasuki babak kedua, dengan pola yang sama: Goenawan Mohamad sebagai pemancing keributan. Esainya “Pasca-Filsafat” rupanya berhasil memancing terjadinya polemik baru–walau tak seramai yang pertama.

Di sini saya tidak peduli akan membela siapa atau tidak berpihak pada siapa, namun saya hanya peduli pada pendapat yang sebentar lagi akan saya utarakan. Intinya bagi saya filsafat itu tidak akan pernah mati. Apakah pendapat saya bisa dipertimbangkan? Tergantung saya, apakah bisa menjelaskan dan membuktikannya.

Dua kata terakhir yang saya sebutkan barusan: “menjelaskan” dan “membuktikan”, seolah-olah masing-masing mewakili keduanya: filsafat dan sains. Pertama, “menjelaskan”, kaitannya dengan filsafat, saya mengambil pengandaian begini:

Dahulu di kampus saya, ada teman mahasiswa yang menolak filsafat. Katanya filsafat itu haram. Lalu dosen filsafat meminta argumennya; alasan mengapa ia menolak filsafat. Ia pun menjelaskan dengan logis, rasional, mendasar, dan silogistik. Dosen filsafat itu kemudian berkata, “Kamu menolak filsafat, tapi sesungguhnya kamu sedang berfilsafat.”

Kata kunci berfilsafat pada kasus ini adalah “penjelasan” atau argumentasi filosofis mengapa ia mengharamkan filsafat. Ini mungkin kelihatan amat subjektif, tapi saya akan menunjukkan letak koherensinya sebentar lagi;

Kedua, “membuktikan” adalah hal yang utama dalam sains. Betapapun sains membuat kita terpesona dengan temuan-temuan barunya, tetapi tetap saja, tanpa adanya bukti, temuan baru tidaklah berguna. Bukti bisa disamarkan dengan kata “empirik”, terlihat.

Pernyataan bisa dibuat begitu saja, tapi tanpa adanya bukti, ia belum bisa diterima sebagai suatu kebenaran, dan inilah watak dasar dari sains. Tetapi tidak semua bukti bisa diterima oleh sains, melainkan hanya bukti yang masuk akal saja. Sempitnya, bukti yang dikehendaki saja.

Saya kasih contoh, ketika saya menginstruksikan dan anda serius menuruti, “Tutup mata anda, lalu bayangkan seekor kambing berkepala tiga!” Anda bisa mem-“bukti”-kan sendiri dalam kepala anda bahwa kambing berkepala tiga. Mengapa? Karena kepala anda punya kemampuan menggabungkan, menceraikan, mengombinasikan, memutarbalikkan, mengurai objek-objek yang sudah anda indrai di alam nyata.

Tapi bukan bukti dalam kepala itu yang dimaui sains, melainkan objek di alam nyata, dan kita tak akan menemukan kambing berkepala tiga di alam nyata. Juga yang diterima sains bukan bukti yang seperti ini:

Seorang tukang obat memasukkan anak manusia ke dalam keranda. Lima atau sepuluh menit kemudian, begitu keranda dibuka tak ada anak manusia di sana, melainkan hanya ada seekor buaya. Pertanyaannya, bisakah seekor anak manusia berubah menjadi seekor buaya? Sains sudah tentu bilang “tidak!” walaupun bukti-bukti yang mendukung telah dihadirkan. Untuk kasus seperti ini, sains akan lebih berupaya memberi jawaban spekulatif ketimbang berupaya membuktikan dan menunjukkan di mana letak ketidakbenarannya.

Status kebenaran temuan sains juga berubah-ubah. Kebenaran kini bisa menjadi salah, syaratnya jika ada kebenaran baru yang buktinya lebih kuat. Pernyataan Aristoteles tentang “benda terkecil disebut atom” dianggap salah oleh penemu inti atom. John Dalton menemukan proton dan elektron di dalam sebuah atom, yang berarti ada unsur yang lebih kecil dari atom. Begitupun Neils Bohr yang menemukan neutron, menyanggah Dalton, dan begitu seterusnya.

Kebenaran sains sifatnya mutakhir. Penemuan paling canggih hadir untuk mengoreksi penemuan sebelumnya. Kerja sains adalah terus menerus melakukan koreksi demi koreksi. Sedang sains sendiri tidak bisa menebak, sampai kapan koreksi terhadap teori terdahulu akan berhenti? Itu karena watak sains selanjutnya: kemutakhiran. Bahwa siapa yang mengklaim penemuannya paling mutakhir, sesungguhnya dia sedang mengingkari sifat sains. Sekaligus menyalahi semangat sains yang optimis, yang dengan yakinnya akan terus menemukan hal-hal yang belum pernah dijangkau oleh umat manusia.

Kapan sains berhenti melakukan koreksi demi koreksi? Sains tidak tahu. Hanya filsafat yang dimungkinkan untuk bisa menjawabnya, dan sudah tentu spekulatif. Sebab salah satu ciri filsafat–sebagaimana yang diketahui oleh umum–adalah spekulatif, namun melalui proses berpikir yang radikal, sistematis, dan logis. Dibangun berdasarkan premis-premis yang ada.

Sains juga dapat membuktikan bahwa sains selalu keliru (ide ini saya dapatkan dari seseorang yang saya anggap sebagai “guru spiritual saya”, nama panggilannya Mas Syam). Misalnya jika kembali pada kasus Aristoteles yang menyebut “benda terkecil disebut atom”. Dalton, Rutherford, Bohr, Schrodinger, dll., bisa saja memecah-mecah atom sesuai dengan teorinya. Namun lihatlah, hal ini justru membuktikan bahwa hasil filsafat Aristoteles lah yang benar. Bahwa jika benda masih bisa dipecah, berati itu belum atom. Ingat: “benda terkecil disebut atom”.

Betapapun sains diunggulkan ketimbang filsafat, nyatanya filsafat tidak bisa musnah dengan apa saja, sekalipun dengan kehadiran sains dengan sejumlah penemuannya yang menghebohkan itu. Sebelum memulai riset, ilmuan punya rencana penelitian, ada target (goal), ada kebaruan yang coba ditampilkan, ada teori atau penemuan sebelumnya yang hendak dikoreksi. Hingga penelitian selesai, rangkaian penelitian bisa dijelaskan dari awal sampai akhir. Sudah pasti di sana kita menemukan hal-hal yang prinsip, fundamental, bertujuan, hingga refleksi. Juga peluang, kesempatan, dan kegagalan bisa dijelaskan secara kausalistik.

Yang terpenting, kita bisa dengan bebas bertanya: apa (ontologi), mengapa (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi), riset yang telah dilakukan ini. Saat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan itu, hingga selesai, sesungguhnya di saat itu pula para ilmuan sedang berfilsafat.

Filsafat di sini jangan dibatasi hanya seputar pikiran filsuf-filsuf naturalsentris. Filsafat juga perlu diikuti perkembangannya hingga yang paling mutakhir. Filsuf pos-strukturalis, postmodernis, agaknya yang paling berkaitan dengan tema ini. Terutama karena pelaku polemik sains jilid dua ini mengambil tiga filsuf dari zaman ini–Rorty, Heidegger, dan Russel–sebagai model dan modal untuk ramai-ramai menyatakan “filsafat sudah berakhir (mati?)”.

Saya membaca buku “Derrida”, sebuah buku biografi pemikian Jacques Derrida yang ditulis oleh seorang Indonesia, Muhammad al-Fayyadl, untuk mendapatkan gambaran bagaimana ceritanya filsafat bisa berakhir atau mati. Derrida terinspirasi Heidegger soal metafisika atau filsafat (kedua istilah ini saling dipertukarkan seolah keduanya sama) barat telah berakhir dengan wataknya yang logosentrik.

Derrida menelanjangi filsafat dengan menawarkan dekonstruksi. Filsafat yang membakukan sebuah definisi, lalu menuntut dunia tunduk pada keinginannya, digugat. Dengan melakukan rombakan total pada pembakuan itu, sisi-sisi yang lain, yang tak tercakup dalam definisi dapat menampakkan diri, hadir untuk dipertimbangkan sebagai sebuah kebenaran yang lain.

Filsuf-filsuf posmodernis, pos-strukturalis, rerata memiliki pemikiran seperti ini. Mereka anti terhadap sesuatu yang superior. Cogito ergo sum, misalnya, digugat karena mengukuhkan kesadaran sebagai syarat untuk menjadi benar. Lalu kesadaran yang dimaksud adalah kesadaran dalam versi Descartes, kesadaran murni yang tak terikat pada historisitas. Adakah kesadaran yang berdiri sendiri lepas dari sejarah? Adakah pikiran yang murni, pikiran yang tidak terarah pada sesuatu (intensi)?

Perlu digarisbawahi, bahwa sesungguhnya yang berakhir adalah filsafat atau metafisika barat yang logosentris itu; filsafat yang seolah bisa mengatasi segala sesuat dan menyembunyikan sejumlah kontradiksi di dalamnya. Lalu yang hidup adalah filsafat yang sifatnya dekonstruksi, atau pos-strukturalis.

Derrida sendiri–demikian al-Fayyadl–meletakkan “filsafat sebagai tulisan”, atau sebagai teks yang tak tergantung pada author, pengarang, atau penulis tertentu. Filsafat beralih dari menyelidiki roh, alam semesta, kesadaran atau moral manusia, ke teks. Teks adalah langue, bahasa manusia yang terstruktur, komunikasi yang objektif dari manusia. Di sana tersimpan selubung kepentingan, politik, misi, dan sudut pandang tertentu dari sang author, sekaligus dapat menyingkap keauthoran itu sendiri.

Filsafat berupaya dibersihkan dari hal-hal yang berbau monopoli sang author. Filsafat bisa diibaratkan sebagai karya yang penciptanya sudah mati, dan karya itu bebas dimaknai oleh pembaca. Dengan begitu, makna tidak mesti milik pembuatnya, lalu pembaca tidak punya hak untuk memaknainya sendiri. Filsafat akhirnya menjadi teks yang bebas dimaknai, sebebas mengulangi pembacaan terhadap teks itu dan memaknainya berulangkali.

Sampai di sini, akhir filsafat bukanlah kematian filsafat, melainkan filsafat yang sudah menjadi semakin yakin dengan dirinya sendiri. Yang mengherankan, mengapa ketika para filsuf mutakhir mengumumkan “kematian filsafat”, justru kita mesti lari ke sains? Bukankah hasil filsafat seorang filsuf, betapapun menolak filsafat, adalah filsafat juga?

Jika mau konsisten, kematian filsafat karena wataknya yang logosentrik mestinya juga berlaku pada sains yang mempersyaratkan paradigma (filsafat) positivisme. Karena sains lebih logosentrik ketimbang filsafat, sains lebih membungkam suara-suara pinggiran yang juga berupaya hadir untuk menjelaskan kebenaran selain dari cara pandang sains itu sendiri.

Dengan kata lain, the end of philosophy, atau the death of philosophy, atau istilah apapun yang semakna dengan itu, tidak lantas membuat kita mengunggulkan sains ketimbang filsafat. Malah istilah-istilah itu semakin menguatkan bahwa filsafat tidak pernah lepas dari apapun, termasuk sains.

Bahkan dalam praktik sains, mulai dari sebelum riset, hingga mempertanggungjawabkan kebenaran risetnya, para ilmuan mesti berfilsafat terlebih dahulu, apa (ontologi), mengapa (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) riset itu.***

One thought on “Filsafat Tidak Akan Pernah Mati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *