Ada Cinta di Cisere

Tulistangan.id – Jum’at berkah kembali berjalan sesuai rencana, kali ini Ombudsman bersama NGO Yayasan Komiu ke dusun Sisere di desa Labuan Toposo kabupaten Donggala untuk tunaikan janji. Pemandangan indah sudah pasti menghadang dengan hamparan luas sawah penuh tanaman jagung menguning siap segera dipanen di kiri kanan jalan. Tanah eks Erfpacht peninggalan kolonial Belanda memang lahan subur yang kini diolah masyarakat. Gedung SPN Kepolisian dan Rumah Bangunan Bertingkat mantan Bupati Morowali alm. Tato Masitudju satu persatu terlewati. Desa Labuan Toposo adalah desa yang tak bisa dilupakan. Teringat 20 tahun lalu desa ini selalu menjadi pusat aktivitas sosial utamanya dalam program pendampingan Komunitas Adat Terpencil.

Setelah melewati balai desa yang ramai dipenuhi masyarakat penyandang disabilitas dan Lansia dalam proses perekaman KTP, saya langsung menuju titik sasaran ke dusun Sisere. Suara air disaluran tersier yang deras adalah ciri khas menuju kawasan Komunitas Adat Terpencil ini. Jalan sempit menanjak berkelok terus dilewati hingga sampai diperhentian di pinggir sungai berarus deras yang harus diseberangi. Kendaraan diparkir di pinggir sungai dan mulai kami menyeberangi sungai dingin ditemani Pj. Kepala desa Labuan Toposo, Ilman yang juga penyandang disabilitas. Sungai itu adalah gerbang dusun Tiku Bora sebagai pintu masuk ke Sisere. Dusun Asri suku Kaili Rai adalah permata desa di kawasan Hutan Lindung yang mulai terganggu dengan aktivitas pembalakan liar.

Ada apa di Sisere?
Pragmatisasi kehidupan mulai merambah hutan kawasan. Dahulu dan hingga kini durian Sisere masih menjadi primadona hasil kebun masyarakat. Tapi itu tidaklah cukup. Kini pencuri kayu mulai berpetualang dengan alasan alternatif pemenuhan ekonomi. Ini harus dicegah sebelum semuanya bakal disesali generasi berikutnya. Saya khawatir bakal tak lama lagi perampok tambang emas ilegal bakal masuk di hutan ini, sama dengan kawasan lain di pegunungan Verbeek yang memang kaya akan tambang emas murni. Sisere harus diselamatkan!

Di balai dusun sederhana, kami datang menunaikan janji. Ada 21 KTP harus diserahkan. Satu per satu, KTP berpindah tangan dan ini adalah moment yang sebenarnya hal biasa. Akan tetapi puluhan tahun tak memiliki KTP ini menjadi kesan tersendiri. Mereka kini resmi jadi warga negara, sama dengan masyarakat di kota.Terbayang senyuman penuh arti, Bantuan Sosial tak lama lagi menjadi hak mereka. Layanan pendidikan, kesehatan, jaminan sosial bahkan sertifikat vacsin bakal mereka dapatkan.

Sisere adalah senyuman. Terima kasih Norwegia Human Right. Mata air gunung yang berlimpah, Juga Perumahan KAT bantuan Kementerian Sosial masih jadi hunian asri. Sekolah Satu Atap (SD-SMP) yang menjadi legacy dulu saat menjadi Pendamping Sosial masih ramai dipenuhi pelajar anak anak Suku. Semoga Sisere bisa bertahan. Kumandang adzan Jelang Jum’at telah memanggil. Kami menutup perjalanan ini dengan duduk bersimpuh mengharapkan ampunan di rumah Allah. Ya Allah selamatkan dusun Sisereku.

Penulis : SFL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *