Oleh : Nasrullah Nawawi (WPC Banggai Kepulauan)

Entah kapan istilah mutiara hijau di sebutkan, yang pasti mutiara hijau bukanlah mutiara kerang atau perhiasan megah yang diperjual belikan. Mutiara hijau adalah sebutan dari Hutan Lindung yang ada di Wilayah Kecamatan Bulagi Selatan Banggai Kepulauan. Tentunya bukan tanpa dasar penyebutan mutiara hijau, karna bagi kami Hutan bukanlah hanya sebatas harta, Hutan bukan hanya sebatas permata, tetapi hutan adalah nyawa untuk bumi. Ketika hutan berakhir kita akan hidup di planet yang mungkin benar-benar tidak dapat menopang kehidupan manusia.

Sadar atau tidak, dampak dari Deforestasi hutan mulai ditampakan oleh alam, dan akibatnya telah dirasakan oleh ekosistem yang ada didalamnya. Dampak yang sangat berakibat fatal terhadap kehidupan adalah perubahan iklim.

Anomali iklim dan cuaca yang semakin sering terjadi selama dasawarsa terakhir ini, merupakan fenomena nyata telah terjadinya perubahan iklim yang sangat signifikan di semua belahan dunia (Global Climate Change). Kalau pada pada dasawarsa sebelumnya, pergantian musim dapat ditebak dengan menghitung bulan setiap tahunnya, namun kondisi itu kini sudah nyaris berubah total. Bulan Meret sampai September yang selama ini selalu diindentikkan dengan musim kemarau, namun pada bulan-bulan tersebut sering terjadi curah hujan dengan intensitas tinggi, sehingga dampaknya sulit di antisipasi, karena memang diluar prediksi. Begitu juga dengan musim penghujan yang biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Pebruari, sekarang juga sudah sangat sulit di prediksi, pada bulan-bulan dimana biasanya terjadi hujan dengan intensitas tinggi, namun di beberapa daerah malah terjadi kekeringan.

Menurut Fathan Muhammad Taufiq*, terjadinya perubahan iklim dan cuaca yang semakin meluas, banyak ditengarai akibat kerusakan lingkungan yang semakin parah. Penebangan hutan secara liar dan tidak terkendali, penggunaan gas freon dan pestisida kimia secara berlebihan, pencemaran udara oleh pabrik maupun kendaraan bermotor, penggunaan plastik dan benda lain yang sulit terurai dalam tanah dan berbagai tindakan atau prilaku tidak peduli kepada lingkungan yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar. Tindakan atau perilaku tersebut kemudian berdampak pada kenaikan suhu permukaan bumi atau pemanasan global (Global Warming), menurunnya kualitas tanah, udara dan air akibat pencemaran yang kemudian terakulumulasi sebagai penyebab terjadinya perubahan iklim secara signifikan.

Baca Juga  Filsafat Tidak Akan Pernah Mati

Solusi Perubahan Iklim
Conversation International menjelaskan bahwa alam merupakan solusi yang paling baik dalam menangani perubahan iklim. Hutan tropis sangat efektif untuk menyimpan karbon dan mencegah skenario perubahan iklim terburuk.

Hutan memiliki peranan penting dalam mengatur kondisi iklim di bumi melalui siklus karbon. Hutan memiliki luasan yang besar sebagai tutupan daratan, sehingga pengaruhnya cukup besar dalam menyerap karbon dari atmosfer yang kian meningkat.

Hutan tropis mampu mereduksi karbon di atmosfer lebih banyak dibandingkan dengan semua hutan di dunia. Sebuah analisis baru memperkirakan bahwa apabila menjaga hutan yang lebih baik dengan menghentikan deforestasi, memulihkan hutan, dan meningkatkan praktik kehutanan dapat mereduksi 7 miliar metrik ton karbon dioksida per tahun.

Faktanya nilai ini setara dengan mereduksi 1,5 miliar mobil. Selain itu, setiap inci (atau setiap sentimeter) pertumbuhan diameter pohon-pohon besar mengakumulasi lebih banyak karbon dibandingkan dengan pohon-pohon kecil. Sehingga, kegiatan konservasi yang dilakukan terhadap beragam jenis dan umur pohon dapat memberikan keuntungan yang besar terhadap stabilitas iklim global.

Sekolah Alam, Belajar Mencintai Alam
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banggai Kepulauan Nomor 1 Tahun 2016 tentang Kawasan Hutan Lindung, Banggai Kepulauan memiliki hutan lindung ± seluas 26.793 Ha, dan wilayah Hutan Lindung terbesar berada di wilayah Kecamatan Bulagi Selatan dengan luas ± 14.487.200 Ha. Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi dilapangan yang kami lakukan, terdapat fakta yang sangat mengejutkan bahwa, hutan Lindung terbesar di Banggai Kepulauan perlahan akan mengalami kerusakan. Padahal dikawasan hutan ini, terdapat berbagai macam flora dan fauna. Bahkan terdapat beberapa hewan endemik, seperti Gagak Peling (Corvus Unicolor), Kring-Kring Bukit (P. p. platurus), Tarsius dan Kus-Kus.

Baca Juga  Menolak Tunduk Pada Pasar (Murah)

Jika hari ini Hutan Lindung terbesar di Banggai Kepulauan tidak dikelolah dan dijaga kelestariannya maka saya yakin 20 tahun kedepan hutan ini akan mengalami kerusakan yang cukup parah. Karna faktanya rata-rata dalam seminggu terdapat 2 pohon yang tumbang. Hal ini jika dikalikan maka dalam setahun ada 102 pohon hilang. Kita tidak dapat bayangkan jika 20 tahun kedepan maka ada 2.040 pohon yang hilang di Hutan Lindung ini.

Sekolah alam yang akan dibentuk di Sub. Desa Batong Desa Mangais Kecamatan Bulagi Selatan, merupakan salah satu upaya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, terlebih kepada anak-anak sebagai generasi kedepan untuk bagaimana mengambil peran dalam upaya pelestarian lingkungan khususnya hutan mereka yang telah banyak memberikan manfaat baik secara ekologi maupun ekonomi.

Wahana Peling Conservation (WPC), akan mengambil peran dalam upaya menjaga kelestarian hutan yang ada di kawasan Batong. Dengan program Sekolah Alam Mutiara Hijau WPC bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Banggai Kepualaun yang di dukung langsung oleh Pemerintah Desa Mangais Kecamatan Bulagi Selatan akan melakukan gerakan Dona si Buku. Dengan adanya donasi buku dari semua kalangan, diharapkan dapat memperlancar proses belajar di Sekolah Alam Mutiara Hijau.[]

Write A Comment