WARIA BERMUKENA

Oleh : Abqary FM

Malam ini mulai gelap, waktu sudah menunjukan pukul 00 lewat 10 menit. Alunan music tak karuan memekik telinga bagi yang tidak terbiasa. Sementara bulan dan bintang di langit gelap mulai pudar, pun cahayanya temeram tak lagi terang. Kupu-kupu malam sedari tadi duduk sambil menjajahkan sayapnya yang putih mulus di pelataran gang sempit, yang merupakan lokalisasi jajanan malam bagi mereka yang ingin memuaskan birahi.

Tidak jauh dari tempat itu, aku dan komunitasku juga berjibaku dengan kegelapan malam. Ini bukan pekerja menurutku, sebab aku bisa mendapatkan yang halal dari pekerjaan sebagai pemilik Salon terkemuka dilingkungan tempat aku tinggal. Yah. Aku sadar bahwa ini hanyalah ruang pemuas bagiku dan mereka yang memiliki kelainan. Oh tidak, aku takut terus terang dengan kondisi yang membelit kehidupanku.

Ya. Aku sadar apa yang aku lakukan ini salah, aku lebih memilih menjadi wanita ketimbang harus menjadi laki-laki seperti awal aku dilahirkan. Penampilanku memang berubah, aku lebih feminim, aku mulai terbiasa menjadi seorang waria, aku mulai suka dengan pasangan sejenis. Kelainan ini sudah kudapatkan sejak Ibu mengharapkan aku lahir 39 Tahun lalu sebagai seorang wanita. Setelah 3 anak ibu sebelumnya lahir dan tumbuh sebagai laki-laki.

Yah, Ibulah yang membentuk mental dan psikologiku menjadi gemulai, lemah lembut serta menyukai semua ornamen milik anak perempuan.

Sementara Bapak terus mengingatkan Ibu untuk tidak memperlakukan sebagai anak perempuan. Akibatnya, Bapak dan ibu sering berselisih paham hanya karena persoalan kebutuhanku sebagai anak laki-laki yang di ingini oleh Bapak.

Seiring waktu, Bapak mulai berlaku kasar, memukul dan menghukum ketika ada hal menyimpang yang aku lakukan dirumah. Seperti menggunakan asesoris milik ibu. alat dan bahan ibu secara sembunyi sering aku gunakan untuk merubah diri sebagai wanita, dan ketika ketahuan oleh bapak perlakukan kasar pasti aku dapatkan dan ibulah yang hadir sebagai pelindung dari sikap bapak yang kasar itu.

Sejak saat itu, naluriku mulai berontak aku mulai membangkang, meski secara langsung aku takut berhadapan dengan bapak. Sikapku mulai menjadi. Bapak semakin tidak lagi peduli, sejak mereka tahu apa aktifitasku selama ini.

Awalnya mereka hanya tahu bahwa aku bekerja di Salon di waktu pagi menjelang sore. Tapi ketika malam mulai larut aku juga bekerja sebagai pemuas. Nah, pekerjaan itu sampai juga ditelinga bapak. Dan sejak ketahuan, sikap bapak mulai tidak peduli, bahkan bapak meultimatum ke aku untuk segera meninggalkan mereka.

 “Oh Tuhan, tunjukan jalan kebenaran ini, karena Engkaulah kami tercipta.” Doaku membatin, setiap mengingat apa yang sudah dilakukan oleh bapak dan lingkungan tempatku tinggal. Bahkan keluarga besarku sudah ikutan untuk membenci.

Padahal dulu tidak seperti ini, kata Ibu mereka bersikap seperti ini karena mereka sudah mengetahui apa yang aku lakukan. Dan itu menurut mereka bikin malu keluarga.

Hingga di suatu hari, bapak dengan tegas dan keras menegurku untuk segera meninggalkan rumah.

 “Ceko, tolong jaga harga diri dan martabat keluarga, jangan bikin malu” Kata Bapak penuh emosi.

“Iya Pa” Kataku singkat. Peringatan pertama masih bisa aku maklumi, sembari aku sadar bahwa selama ini aku sudah diperlakukan seperti pelaku begal yang mencoreng nama baik keluarga.

Namun, sejak beberapa kali dapat teguran dan perlakuan kasar dari bapak. Ada satu sikap dari bapak yang buat aku harus putuskan untuk meninggalkan rumah. Yakni ketika aku harus diminta untuk meninggalkan kebiasaan sebagai seorang waria.

Tidak, itu tidak mungkin aku lakukan dan pun aku tidak tahu bagaimana caranya. Dari pada bersitegang dengan bapak aku lebih memilih untuk meninggalkan rumah dan hidup dengan caraku sendiri.

Kejadian itu 5 tahun lalu. Ada banyak pelajaran yang aku ambil. Meski jauh dari keluarga sesekali aku menghubungi Ibu untuk menanyakan kabar. Lalu tak lupa kutitipkan uang untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

5 tahun terakhir kondisi bapak sudah tidak sehat. Banyak yang dipikirkan oleh bapak hingga membuat tubuhnya mulai lemah. Dan kakak-kakakku juga ikutan menyalahkanku. Bahwa aku ditengerai membawa petaka bagi mereka dan itu tidak bisa kuterima secara akal sehat.

Putusan 5 tahun lalu yang aku ambil adalah pilihan bijak. Aku lebih memilih seperti ini, kodrat yang Tuhan sudah berikan sejak aku dilahirkan. Sejak saat itu, aku mulai menikmati hidup penuh nista, hampir setiap malam para pria itu memperlakukanku layaknya seorang kekasih. Dan aku pun menikmati setiap perlakuan mereka. Oh tidak.

Banyak hal yang sudah aku lakukan sejak aku memilih meninggalkan kedua orang tuaku. 10 tahun sudah aku ada diantara kegelapan malam. Kehidupan kami sebagai waria mulai banyak ditentang. Bahkan rencana pemerintah untuk melegalkan keberadaan kami dengan menerbitkan RUU tentang LGBT menuai pro dan kontra. Aku semakin tidak peduli, aku terus bekerja pagi hingga sore untuk mengumpulkan pundi-pundi uang lalu ditengah malam aku puaskan diriku dengan menyalurkan hobi yang menyimpang itu.

Lama memang 5, 10 bahkan 15 tahun aku diperlakukan tidak adil oleh lingkungan. Kerap aku dan komunitasku terjaring razia. Setelah didata dan dilakukan pembinaan kehidupanku tidak berubah. Tetap seperti malam-malam penuh kegelapan.

Entah kenapa, suatu ketika ibu tiba – tiba mengabarkan berita duka. Bahwa bapak telah meninggal akibat komplikasi penyakit yang sudah kronis. Aku mulai risau, tanpa sadar butiran air mataku jatuh. Aku menangisi bapak yang sampai diakhir hayatnya tidak memaafkan aku sebagai anak yang penuh dosa. Yah, bapak pergi untuk selamanya. Ketika niatku untuk melayat. Kakak dan keluarga menolak kehadiranku. Kondisi itu menambah daftar kelam kehidupanku. Ach. Aku harus membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa hidup dengan nyaman sebagai seorang waria.

Aku capek, diteriaki oleh anak-anak ketika pulang dari tempatku bekerja, aku capek dipalak oleh preman ditempatku bekerja, aku capek ketika nilai kreatifitas kami terkadang tidak dihargai. Dan aku capek, aku capek sekonyong-konyongnya.

“Mey, Kok kita diperlakukan tidak adil” kataku kepada teman yang juga bernasib sama seperti aku.

 “Entahlah Ce, mungkin sudah takdir kita diperlakukan seperti ini,” Jawab sahabatku penuh ketakutan.

“Apa perlu kita melawan” Aku mulai berani menantang teman-teman untuk melawan..

“Ach, akal sehatmu mulai dipengaruhi emosi ce,” Kata Mey.

“Mana mungkin, kita ini lemah, kaum kita minoritas, apa yang bisa kita lakukan dengan mereka, palingan kita disalahkan, mendingan kita nikmati saja seperti ini, selagi kita tidak merugikan orang lain” lanjut mey yang mulai gusar dengan tantangan itu.

Mey sangat tahu bagaimana sikapku ketika mulai emosi, ia tahu bagaimana ketika aku harus berkelahi dengan seorang pria karena berani melecehkan sesama waria ketika didepan umum. Mey khawatir kalau saja aku melakukan hal itu lagi. Dan hal yang paling ditakutkan ialah ketika aku harus berurusan dengan kepolisian. Karena Mey yakin dan percaya, hukum tidak lagi adil terhadap mereka. Itu saja.

Banyak yang bernasib sama seperti aku dan Mey. Banyak diantara kami yang terlantar dan tidak lagi dipedulikan oleh keluarganya. Kondisi sosial tersebut sejak dulu memperlakukan kami dengan tidak adil, terasa sekali perbedaaan itu. Padahal aku dan teman-teman hanya ingin diakui sebagai manusia, itu saja tidak lebih.

Sejak kerisauan itu semakin menguat, maka aku memberanikan diri untuk membentuk satu komunitas waria, berharap dengan kehadiran komunitas ini dapat membantu hidup kami agar lebih terpandang. satu persatu kuajak sahabatku untuk bergabung di komunitas. Lalu aku jadikan komunitas itu sebagai alat kampanye kepada publik agar tidak lagi mendeskreditkan keberadaan kami ditengah masyarakat.

Selama mengurusi komunitas itu, hidupku mulai tenang, jiwaku mulai nyaman aku tidak lagi bekerja hingga larut malam, karena rasa kepercayaan diriku mulai kuat, maka kemudian aku harus berpkir ada peran agama dalam diriku untuk membackup setiap perjuangan membantu sesama yang terpinggirkan. Aku mulai berbaur bersama mereka yang termarjinalkan, mendukung sepenuhnya rencana pemerintah yang ingin menerbitkan UU tentang LGBT yang 5 tahun lalu tertunda akibat banyaknya penolakan dan pro kontra dari semua pihak.

***

Waktu sudah menunjukan tengah malam, seperti biasa setelah rapat di sekretariat komunitas waria, satu persatu anggota mulai bekerja seperti biasa, ada yang keluyuran untuk mangkal, ada yang melakukan aktivitas rutin dan banyak lagi yang mereka lakukan.

Sementara aku masih duduk terdiam dibalik meja tempat kami rapat tadi, aku mulai menatap setiap langit-langit di ruang tengah itu, kepulan asap kuhembuskan, setelah rokok yang kuhirup dalam – dalam. Rasanya tenang dan nyaman.

Seketika semua menjadi gelap, lalu dalam kegelapan itu aku banyak melihat hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan. Yah. Aku tiba-tiba berpikir untuk menjadi waria solehah. Aku berpikir menjadi waria yang menyampaikan dakwah kebaikan, dan apakah itu mungkin?

Apakah mungkin? Pertanyaan itu terus menggelayut hingga aku tak sadar sudah terlelap ditengah malam gelap. Suasana sekertariat mulai sepi, pintu sudah terkunci dari luar, lampu sebagian sudah dipadamkan. Tinggal aku seorang diri mematung dalam kegelapan.

Prak, tiba-tiba ada yang memukul pundakku, siapa gerangan, pakaiannya serba putih, wajahnya bersih, yah aku mengenal wajah itu, tapi aku lupa siapa gerangan yang datang dikegelapan malam ini. Yah, mirip seperti wajahku, tapi tidak mungkin wajahku seputih itu.

“Siapa dirimu?” Kuberanikan untuk bertanya.

“Aku adalah sisi baik dalam dirimu, aku adalah cahaya suci yang ada dalam jiwamu, aku adalah lentera penerang yang ada didalam hatimu, maka bergegaslah untuk bertobat, bergegaslah untuk melakukan kebaikan,” Ia menjawab pertanyaan singkatku.

“Lalu apakah mungkin aku bisa percaya tentang dirimu. Logikamu sangat tidak masuk akal, mana mungkin bisa.? Kembali kukejar dengan pertanyaan untuk meyakinkan apakah aku bisa.

“Jelas kamu bisa” setalah terjawab kamu bisa, tiba – tiba Bayangan itu hilang disaat kawan datang menyalahkan lampu tengah tempat kami rapat tadi.

“Maaf Ce, ku kira sudah tertidur?” Ujar sinta yang kebetulan baru pulang dari mangkal. “Iya Gak apa-apa? Jawab saya ditengah sadar dan tidaknya pasca kejadian tadi.

Subuh sudah menjelang, azan berhasil berkumandang dengan indah lewat pengeras suara masjid. Aku mulai siap untuk melaksanakan ibadah shalat Subuh untuk pertama kalinya, sudah cukup lama, bahkan aku lupa kapan terakhir kali shalat subuh.

Nah, ditengah keremangan itu, Aku diperhadapkan dengan kebimbangan, aku menatap lekat-lekat mukena milik sahabat wanitaku, tiba-tiba Air mataku menetes apakah mungkin, untuk kesekian kali, aku harus mengambil keputusan yang bertentangan dalam kehidupan normalku.

“Oh tidak, lagi-lagi Engkau mengujiku ya Rabb”. Cetusku dalam hati.

“Tuhan, bagaimana kalau aku berHIJAB (menggunakan mukena) saja, biar semua org bisa menghormati dan menghargai kodratku sebagai seorang WARIA.” Kata hatiku terus bergerak. Ditengah linangan air mata, aku kenakan Mukena itu, hatiku bergetar, jiwanya bergejolak. Pilihan ini sunggu berat bagiku. Namun, aku yakinkan diriku, bahwa ini adalah pilihan paling mulia dalam kehidupanku. Entah apalagi kata orang diluar sana, aku tidak peduli, karena ini adalah jalan terbaik yang sudah ditunjukan Tuhan kepada aku.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *