PASRAHNYA TIM SUKSES

Tulistangan.ID – DISUATU siang, sesi curhat tetiba dibuka. Iya memulai dengan pembahasan dengan rasa penuh ketakutan. Ia langsung ke pokok masalah.

Tidak ada tanda – tanda capresnya mau menang. Meski iya sudah bekerja semaksimalmungkin. Iya sudah turun dilevel paling bawah dimasyarakat, justru yang ditemui orang – orang sudah menentukan pilihan presiden. Rupahnya, penyebabnya takut adalah hal demikian. Ia lantang bicara kepada saya yang tidak begitu memahami pergerakan suara pada pemilihan presiden. Hanya saja, dari hasil pengamatan, kandidat yang iya jagokan pasti akan kalah.

Sejak, menyatakan mendukung. Iya sudah menulis banyak status di media sosialnya. Baik yang positif, maupun yang arahnya provokatif. Tapi kemudian, hal itu tidak mampu mengubah pilihan orang untuk ikut pilihannya. Bahkan tak mampu terprovokasi atas berbagai pernyataannya yang kontroversial.

Iya berujung pasrah. Meski Ia masih meyakini kemenangan itu dapat diraih jika ada mujizat. Entalah, Mujizat apa yang dimaksud. Selain kepastian suara, dipolitik tidak ada mujizat kecuali tetap optimis untuk bekerja. Politik hari ini adalah, Politik angka – angka yang lebih mengedepankan proses dilapangan untuk menentukan kepastian hasilnya.

Hal diatas, terjadi pada seorang kawan yang merupakan loyalis sejati, fanatik tingkat tinggi. Yang sampai dengan hari ini masih bekerja untuk calon presidennya dengan berbagai cara. Untungnya, saya masih mau mendengar apa yang menjadi kegelisahannya. Iya sudah tahu, pasti akan kalah. Tapi dipolitik, Prinsip kalah itu harus benar – benar nyata jika pertandingan sudah usai. Jika masih berproses, maka kata kalah jangan sekali – kali untuk didengungkan. Bagus, Prinsip itu Ia gunakan untuk menguatkan hati dan meningkatkan optimisnya dalam berjuang.

Semalam itu juga, ia sampaikan ke saya, bahwa Ia mulai khawatir, waktu yang tinggal 43 hari pemilihan ini, calon yang diusung surveinya masih stag diposisi paling bawah. Ia sudah laporkan ke pimpinan partai yang mengusung, juga sudah memaparkan kondisi rill dilapangan kepada tim – tim tingkat atas. Tapi, Partai dan tim juga mulai hilang arah.

Setelah dilaporkan, hal itu sedikit membuat ia legah, Tapi tak sedikit buat hatinya tenang. Karena ada hal yang membuat tanggungjawabnya harus betul – betul dituntaskan. Atas laporan itu, Ia Kembali ditugaskan untuk turun lagi kebawah dengan menyiapkan berbagai macam cara, ditambah sedikit amunisi. Wajahnya penuh kebahagiaan. Ia dititipkan uang saku untuk memastikan kondisi dan situasi ini harus segera berubah. Apapun caranya.

Namun, pada akhirnya. Ia menyadari. Bahwa Ia sudah kehabisan orang untuk dipengaruhi. Masyarakat kita sudah cerdas dan tahu siapa yang harus dipilih. Tapi tidak untuk tugas ini, ia harus selesaikan sampai benar – benar pilihannya dipilih oleh orang lain…[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *